Sejak kejadian itu, saya penasaran ingin mencoba lagi. Berulang kali saya mencoba memikirkan sesuatu atau seseorang dengan detail yang saya tahu. Saat itulah, saya merasakan hal yang tak terduga, misalnya; saya merasakan orang yang lagi saya pikirkan itu sedang sakit atau orang itu melakukan hal yang ga baik yang bisa merugikan saya, dsb. Biasanya, untuk membuktikan apakah pikiran saya itu benar atau engga, saya langsung meng-sms atau meneleponnya. Dan, benar. Karena, dari telp bisa terdengar suaranya yang sengau atau bendeng (istilah jawa untuk suara orang yang sedang sakit flu) atau serak, dsb.
Tapi sejujurnya, saya adalah orang yang susah percaya dengan hal-hal non logis kayak gitu. Saya cuma mikir, itu adalah kejadian kebetulan yang saya alami. Hingga suatu malam, teman saya (yang juga mengerti hal-hal kayak gitu), mencoba telepati thdp saya. Simple sih. Dia menebak warna pakaian saya yang sedang saya pakai malam itu. Dia minta saya mengirimkannya melalui telepati antar telepon. hmmm..hehehe. Saya menyetujuinya walaupun dengan hati yang ragu. Lalu, telepon ditutup. Dan saya mulai memikirkan dia, lalu hati saya seolah bicara dan menyebut begini "malam ini saya pakai baju dengan warna a,b dan c". Terus menerus saya ucapkan itu dalam hati. Beberapa menit kemudian, dia menelpon saya lagi. Dan, dia bilang gini "Ding, malam ini warna baju lo a..,b,..." Saya ketawa mendengarnya. Lalu saya melanjutkan lagi "Trus apa lagi?" dan ia menjawab, "..aduuhhh ding, gw cape. gw mo mandi dulu ya. ni keringetan kayak abis marathon". Tepat banget! Saya berada antara rasa percaya dan ga percaya.
Well, saya ga tau itu kebetulan atau engga. Puncaknya, ketika saya bertemu dengan seseorang yang sama sekali ga saya kenal. Saat itu kebetulan saya baru saja mengalami kejadian yang ga enak banget (buat saya tentunya..he) sama seseorang anggap saja berinisial A dan sampai terobsesi untuk tidak mau mengenal dia apapun bentuknya. Malah sempat terpikir untuk membencinya. Ceritanya begini, suatu sore, saya pulang ke rumah menaiki angkutan umum yang berhenti di terminal blok m. emang, rute saya itu lewat blok m dengan tujuan akhir terminal lebak bulus. Di terminal itu terbagi beberapa jalur untuk bis-bis yang sama tujuan akhirnya. Saya biasanya naik metromini 72 atau 79 yang lewat pondok indah dan berhenti di terminal lebak bulus. Entah kenapa saat itu saya gak pengen naik 72 ato 79,padahal bis dengan nomer itu lewat terus-terusan di depan saya dengan bangku yang 90% kosong. Ketika ada metromini dengan no 611 hampir melewati saya, entah kenapa saya pingin naik apalagi pas saya lihat rutenya juga sama yaitu berhenti di terminal lebak bulus. Akhirnya, dengan perasaan tak menentu, (saya belum pernah naik bis ini dan jujur, saya juga gak tau lewat rute mana. yang saya liat cuma tulisan Blok M-Lebak Bulus yang ada di kaca besar di depan. Pede banget d pokoknya..! :D).
Bis ini gak langsung jalan. Situasinya begitu padat sehingga untuk keluar dari jalur itu, para bis harus sabar mengantri. Dalam keadaan mengantri itulah, saya yang duduk di dekat sebrang pintu (belakang supir) dan kebetulan saat itu yang ada di bis itu hanya saya, supir, kenek dan 1 orang penumpang di area belakang, melihat dengan jelas ada seorang laki-laki menyebrang menuju jalur saya. Ia melewati bis yang saya naiki. Ketika dia melewati depan bis saya ini, saya (kebetulan lagi melihat ke depan) berpikir begini "wah,kok kayaknya ini orang mau naik bis ini yah? wah gawat!" Kok yo GR banget ya saya ini. kl dipikir2, saat itu, bis banyak. dan dia juga ga nengok ke arah bis yang saya naiki ini. Untuk menghilangkan perasaan tak menentu ini, saya mencoba mengalihkan pandangan saya ke luar. Dan, ketika saya melihat ke arah pintu masuk, betapa terkejutnya saya krn orang itu benar2 menaiki bis saya. Lalu, muncul lagi suara hati saya, begini bunyinya "wah gawat! kyknya bentar lagi dia mau duduk di samping gw! aduhh jangan sampe d!" huuhhh kl saya bisa menjitak diri saya sendiri saat itu,mungkin saya akan menjitaknya. GR banget!!
Lalu, saya mengalihkan lagi pandangan saya ke arah kanan saya. Saya berusaha menenangkan hati saya dengan berkata "gak mungkin!! GR banget sih gw!! toh juga bangku kosong masih tersedia 70%. " Lagi asyik-asyiknya saya memandangi ibu-ibu penjual permen di luar, saya terkejut dengan hadirnya sosok di samping kiri saya. Dan, ketika saya melihatnya ternyata orang itu. Hmmm.. Lalu, ga lama setelah itu, bis mulai jalan. Entah kenapa, ketika sampai di samping Blok M Plaza, saya merasa, kayaknya sebentar lagi dia mau ngajakin kenalan. hahaha padahal, dia nengok pun engga. huh GR!!! Dan, ternyata ini juga jadi nyata. sekitar 5 menit setelahnya, dia memang ngajak saya kenalan. Perasaan saya tak karuan. Ternyata rumahnya memang dilewati bis itu.
Setelah masa perkenalan yang aneh bin ajaib itu, sering ada kontak. Ya lewat sms atau telp. Hubungan saya dengan dia (anggap saja berinisial B) makin dekat. Saya sempat berpikir "ada apa ya dengan semua ini? Rabb, kenapa saya merasa ada sesuatu di balik ini semua? Semoga ada hikmahnya." Perasaan saya ternyata benar. 3 bulan setelah perkenalan itu, saya tahu ternyata B adalah sepupu A. Itu pun saya tahu secara ga sengaja. Awalnya cuma mau berbagi tentang keadaan orangtua masing-masing. Pekerjaannya apa, dimana,dsb. Gak disangka ternyata B punya sodara yang juga 1 Departemen dengan ortu saya, hanya beda bidang dan lokasi. Sempat terlintas dalam benak saya,"jangan2 dia sodaranya A". Hmm tapi ya namanya juga penasaran, saya tetep menanyakan nama sodaranya sapa. Begitu nama A disebut, saya benar2 merasa seperti tersengat listrik. Untuk lebih memastikannya, saya menanyakan alamat sodaranya itu dimana, anak keberapa hingga no tlp rumahnya. Karena, saya berpikir, nama A kan pasaran. Mungkin ada yang lain. Ya, saya hanya mau memastikan apakah orangnya sama dengan yang saya maksud. Ternyata sama!!!
Akhirnya, begitu sampai di rumah, di dalam shalat, saya hanya bisa bilang " Rabb, Engkau begitu baik dengan tidak mengizinkan aku untuk melupakan dan membenci A". Ya, hikmahnya, Saya sudah tidak membencinya lagi karena sungguh, saya tidak kuasa untuk membencinya. Selalu ada halangan untuk itu. Tapi, saya juga tahu diri dengan keadaannya yang sudah menikah. Yang pasti, ini pengalaman paling berarti buat saya dimana firasat itu memang benar-benar saya rasakan.
Saya ga tahu, apa ini bisa dibilang telepati atau firasat. Yang jelas, saya sering mengalaminya hingga detik ini. Dan itu kadang membuat saya tersiksa karena seolah tahu apa yang ada di pikiran orang lain. Mungkin, lebih baik berpikir kalau kejadian yang saya alami adalah kebetulan yang jarang terjadi. Itu bisa membuat saya lebih ringan.
Telepati / hal seperti ini bisa dipelajari. Om saya pernah bilang begitu.
Ada yang pernah mengalami hal yang pernah saya alami? Atau mau kasih comment?
Tapi sejujurnya, saya adalah orang yang susah percaya dengan hal-hal non logis kayak gitu. Saya cuma mikir, itu adalah kejadian kebetulan yang saya alami. Hingga suatu malam, teman saya (yang juga mengerti hal-hal kayak gitu), mencoba telepati thdp saya. Simple sih. Dia menebak warna pakaian saya yang sedang saya pakai malam itu. Dia minta saya mengirimkannya melalui telepati antar telepon. hmmm..hehehe. Saya menyetujuinya walaupun dengan hati yang ragu. Lalu, telepon ditutup. Dan saya mulai memikirkan dia, lalu hati saya seolah bicara dan menyebut begini "malam ini saya pakai baju dengan warna a,b dan c". Terus menerus saya ucapkan itu dalam hati. Beberapa menit kemudian, dia menelpon saya lagi. Dan, dia bilang gini "Ding, malam ini warna baju lo a..,b,..." Saya ketawa mendengarnya. Lalu saya melanjutkan lagi "Trus apa lagi?" dan ia menjawab, "..aduuhhh ding, gw cape. gw mo mandi dulu ya. ni keringetan kayak abis marathon". Tepat banget! Saya berada antara rasa percaya dan ga percaya.
Well, saya ga tau itu kebetulan atau engga. Puncaknya, ketika saya bertemu dengan seseorang yang sama sekali ga saya kenal. Saat itu kebetulan saya baru saja mengalami kejadian yang ga enak banget (buat saya tentunya..he) sama seseorang anggap saja berinisial A dan sampai terobsesi untuk tidak mau mengenal dia apapun bentuknya. Malah sempat terpikir untuk membencinya. Ceritanya begini, suatu sore, saya pulang ke rumah menaiki angkutan umum yang berhenti di terminal blok m. emang, rute saya itu lewat blok m dengan tujuan akhir terminal lebak bulus. Di terminal itu terbagi beberapa jalur untuk bis-bis yang sama tujuan akhirnya. Saya biasanya naik metromini 72 atau 79 yang lewat pondok indah dan berhenti di terminal lebak bulus. Entah kenapa saat itu saya gak pengen naik 72 ato 79,padahal bis dengan nomer itu lewat terus-terusan di depan saya dengan bangku yang 90% kosong. Ketika ada metromini dengan no 611 hampir melewati saya, entah kenapa saya pingin naik apalagi pas saya lihat rutenya juga sama yaitu berhenti di terminal lebak bulus. Akhirnya, dengan perasaan tak menentu, (saya belum pernah naik bis ini dan jujur, saya juga gak tau lewat rute mana. yang saya liat cuma tulisan Blok M-Lebak Bulus yang ada di kaca besar di depan. Pede banget d pokoknya..! :D).
Bis ini gak langsung jalan. Situasinya begitu padat sehingga untuk keluar dari jalur itu, para bis harus sabar mengantri. Dalam keadaan mengantri itulah, saya yang duduk di dekat sebrang pintu (belakang supir) dan kebetulan saat itu yang ada di bis itu hanya saya, supir, kenek dan 1 orang penumpang di area belakang, melihat dengan jelas ada seorang laki-laki menyebrang menuju jalur saya. Ia melewati bis yang saya naiki. Ketika dia melewati depan bis saya ini, saya (kebetulan lagi melihat ke depan) berpikir begini "wah,kok kayaknya ini orang mau naik bis ini yah? wah gawat!" Kok yo GR banget ya saya ini. kl dipikir2, saat itu, bis banyak. dan dia juga ga nengok ke arah bis yang saya naiki ini. Untuk menghilangkan perasaan tak menentu ini, saya mencoba mengalihkan pandangan saya ke luar. Dan, ketika saya melihat ke arah pintu masuk, betapa terkejutnya saya krn orang itu benar2 menaiki bis saya. Lalu, muncul lagi suara hati saya, begini bunyinya "wah gawat! kyknya bentar lagi dia mau duduk di samping gw! aduhh jangan sampe d!" huuhhh kl saya bisa menjitak diri saya sendiri saat itu,mungkin saya akan menjitaknya. GR banget!!
Lalu, saya mengalihkan lagi pandangan saya ke arah kanan saya. Saya berusaha menenangkan hati saya dengan berkata "gak mungkin!! GR banget sih gw!! toh juga bangku kosong masih tersedia 70%. " Lagi asyik-asyiknya saya memandangi ibu-ibu penjual permen di luar, saya terkejut dengan hadirnya sosok di samping kiri saya. Dan, ketika saya melihatnya ternyata orang itu. Hmmm.. Lalu, ga lama setelah itu, bis mulai jalan. Entah kenapa, ketika sampai di samping Blok M Plaza, saya merasa, kayaknya sebentar lagi dia mau ngajakin kenalan. hahaha padahal, dia nengok pun engga. huh GR!!! Dan, ternyata ini juga jadi nyata. sekitar 5 menit setelahnya, dia memang ngajak saya kenalan. Perasaan saya tak karuan. Ternyata rumahnya memang dilewati bis itu.
Setelah masa perkenalan yang aneh bin ajaib itu, sering ada kontak. Ya lewat sms atau telp. Hubungan saya dengan dia (anggap saja berinisial B) makin dekat. Saya sempat berpikir "ada apa ya dengan semua ini? Rabb, kenapa saya merasa ada sesuatu di balik ini semua? Semoga ada hikmahnya." Perasaan saya ternyata benar. 3 bulan setelah perkenalan itu, saya tahu ternyata B adalah sepupu A. Itu pun saya tahu secara ga sengaja. Awalnya cuma mau berbagi tentang keadaan orangtua masing-masing. Pekerjaannya apa, dimana,dsb. Gak disangka ternyata B punya sodara yang juga 1 Departemen dengan ortu saya, hanya beda bidang dan lokasi. Sempat terlintas dalam benak saya,"jangan2 dia sodaranya A". Hmm tapi ya namanya juga penasaran, saya tetep menanyakan nama sodaranya sapa. Begitu nama A disebut, saya benar2 merasa seperti tersengat listrik. Untuk lebih memastikannya, saya menanyakan alamat sodaranya itu dimana, anak keberapa hingga no tlp rumahnya. Karena, saya berpikir, nama A kan pasaran. Mungkin ada yang lain. Ya, saya hanya mau memastikan apakah orangnya sama dengan yang saya maksud. Ternyata sama!!!
Akhirnya, begitu sampai di rumah, di dalam shalat, saya hanya bisa bilang " Rabb, Engkau begitu baik dengan tidak mengizinkan aku untuk melupakan dan membenci A". Ya, hikmahnya, Saya sudah tidak membencinya lagi karena sungguh, saya tidak kuasa untuk membencinya. Selalu ada halangan untuk itu. Tapi, saya juga tahu diri dengan keadaannya yang sudah menikah. Yang pasti, ini pengalaman paling berarti buat saya dimana firasat itu memang benar-benar saya rasakan.
Saya ga tahu, apa ini bisa dibilang telepati atau firasat. Yang jelas, saya sering mengalaminya hingga detik ini. Dan itu kadang membuat saya tersiksa karena seolah tahu apa yang ada di pikiran orang lain. Mungkin, lebih baik berpikir kalau kejadian yang saya alami adalah kebetulan yang jarang terjadi. Itu bisa membuat saya lebih ringan.
Telepati / hal seperti ini bisa dipelajari. Om saya pernah bilang begitu.
Ada yang pernah mengalami hal yang pernah saya alami? Atau mau kasih comment?

